**************************

Senin, 08 Agustus 2011

Peran Perpustakaan di Pondok Pesantren dalam Mencetak Cendekiawan Muslim


 Urgensi Peran Perpustakaan dalam Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren: Mencetak Cendekiawan Muslim Berbasis IPTEK yang Berakhlakul Karimah. 


 

Perpustakaan sebagai hasil budaya mempunyai fungsi sebagai sumber informasi, sumber ilmu pengetahuaan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan (kepres no. 11 th 1998). Selain itu, perpustakaan seperti yang tertulis dalam UU RI no. 43 tentang perpustakaan, pasal 3, juga berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Seringkali juga dikatakan bahwa perpustakaan merupakan jantungnya informasi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas pendidikan. Perpustakaan merupakan sumber belajar yang sangat penting, dan bertugas sebagai media penyampai publikasi kekayaan intelektual serta sarana pendukung kegiatan pendidikan.

Pernyataan diatas merupakan cermin pentingnya perpustakaan, oleh karena itu keberadaan perpustakaan dapat dikatakan sebagai keharusan dalam pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam dunia pendidikan. Terlebih lagi dalam dunia islam, sudah kita ketahui bersama bahwa besarnya peradaban islam identik dengan keberadaan perpustakaan, seperti yang pernah disinggung oleh H. Amin Haedari (Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI), dalam workshop pengembangan perpustakaan pondok pesantren di Hotel Syahid Yogyakarta. Pada sambutannya diceritakan berdirinya beberapa perpustakaan besar pada masa lalu, seperti Baitul Hikmah di Baghdad, perpustakaan Ibnu Suwar di Basrah, dan Darul Hikmah di Kairo, memberikan pesan bahwa Islam telah memberi kontribusi besar bagi intelektualisme dan peradaban dunia. Jadi bisa dikatakan, perpustakaan merupakan sarana penting yang tidak dapat ditingggalkan dalam memajukan dan mengembangkan masyarakat islam.

Pondok pesantren sebagai cerminan dari pendidikan asli Indonesia, sebagai pewaris keilmuan islam dan sebagai embrio untuk meneruskan warisan kejayaan islam masa lalu, selayaknya mengikuti jejak dan cara ini untuk lebih mengembangkan dan menciptakan intelektual masa kini. Data terakhir Tempo (21 september 2009) departemen agama mencatat ada sedikitnya 21.000 pesantren di seluruh tanah air, dengan hampir empat juta santri. Dimaksudkan dengan keberadaan perpustakaan yang tidak hanya sekedar digunakan sebagai tempat untuk membaca buku dan kitab-kitab pengetahuan, tetapi juga digunakan sebagai sumber belajar (student center) bagi para ustadz dan santri pondok pesantren serta masyarakat sekitarnya.

Seperti yang terjadi pada perpustakaan pondok pesantren Sidogiri, Pasuruan. Keberadaan perpustakaan di pondok pesantren ini tidak hanya digunakan sebagai rujukan, akan tetapi juga digunakan sebagai sarana pendidikan alternatif dalam mengembangkan masyarakat pondok pesantren. Hal ini dimungkinkan karena perpustakaan sendiri digunakan sebagai sarana belajar dan mengembangkan intelektual santri, ustadz, maupun masyarakat sekitar pondok.

Contoh lain pengembangan fungsi perpustakaan, adalah seperti yang dilakukan perpustakaan pondok pesantren Al Hikmah, Brebes, Jawa Tengah. Perpustakaan ini digunakan sebagai media atau wadah para santri dalam mencurahkan uneg-unegnya, berupa tulisan artikel ataupun opini. Bahkan, di pondok pesantren Tebuireng, Jombang, perpustakaan digunakan untuk mengembangkan minat baca para santri atas buku, yakni dengan mewajibkan para santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

Dari contoh-contoh di atas, harus disadari bahwa di era informasi dan komunikasi seperti sekarang ini, perpustakaan dapat dikatakan sebagai jantungnya pondok pesantren dalam rangka memperkuat tradisi keilmuan dan keintelektualan, karena mau tidak mau disaat dinyatakan lulus dari pondok pesantren, para santri akan langsung dihadapkan dengan kehidupan nyata yang memerlukan pengetahuan kompleks. Oleh karena itu perpustakaan dapat dipandang sebagai sarana pondok pesantren dalam memberikan pengetahuan luar guna keperluan bersosialisasi dengan masyarakat. Hal ini dapat ditempuh perpustakaan dengan cara menyediakan buku-buku yang beragam, tidak hanya menitikberatkan pada koleksi yang berisifat keagamaan, akan tetapi juga koleksi yang bersifat umum (pengetahuan umum). Selain sebagai sarana untuk bersosialisasi dengan dunia di luar pondok pesantren, keberadaan buku-buku pengetahuan yang bersifat umum ini juga dirasa penting dalam mengembangkan masyarakat pondok pesantren yang melek teknologi dan informasi, terlebih di era globalisasi yang serba cepat dalam perkembangan segala aspek.

Dengan berkembangnya masyarakat pondok pesantren menuju masyarakat intelektual lewat pengembangan perpustakaannya, maka diharapkan pondok pesantren tidak hanya berperan sebagai pencetak cendekiawan muslim yang berakhlakul karimah, akan tetapi pondok pesantren juga dapat mencetak cendekiawan muslim yang berbasis teknologi dan ilmu pengetahuan yang berakhlakul karimah. Dalam artian, masyarakat pondok pesantren dapat mengembangkan ilmu pengetahuan keislaman dengan memanfaatkan teknologi informasi yang berdasarkan akhlakul karimah, dan perpustakaan pondok pesantren dapat dijadikan sebagai center of knowledge dalam proses pengembangan tersebut.
Dalam Pengembangan perpustakaan pondok pesantren seperti ini, mungkin pondok pesantren tidak dapat melakukan secara mandiri, akan tetapi pondok pesantren memerlukan kerjasama dengan instansi terkait guna mengembangkan perpustakaan, seperti halnya perguruan tinggi. Karena perguruan tinggi adalah tempat dimana para praktisi propersional berada dan juga merupakan lembaga pendidikan tertinggi dalam pengembangan pendidikan di negara ini. Maka secara otomatis perguruan tinggi juga mempunyai tanggung jawab dalam hal pengembangan pendidikan, lebih khusunya pada pondok pesantren. Terlebih lagi kalau kita melihat Universitas Airlangga dengan motto Excellence with MoraltyNya. Seperti yang sudah dikatakan oleh Prof. Dr. H. Fashich, Apt. (Rektor Universitas Airlangga), beliau memandang bahwa Excellence with Moralty adalah meraih keunggulan berbasis moralitas dalam setiap langkah dan ruang gerak yang dilakukan dengan cara menjiwai dan memberikan makna yang bernilai lebih dalam (warta unair,2010). Jadi dari motto ini memungkinkan dapat dijadikan dasar Universitas Airlangga untuk melakukan kerjasama dengan pondok pesantren guna mengembangkan masyarakat pondok pesantren, khususnya pada perpustakaan pondok pesantren.

Integrasi antara pondok pesantren dan Universitas Airlangga melalui perpustakaan pondok pesantren, diharapkan dapat dijadikan sebagai jembatan hubungan simbiosis mutualisme yang akan menghasilkan cendikiawan muslim bebasiskan IPTEK yang berakhlakul karimah, yang akan menjunjung tinggi motto yang disandang oleh Universitas Airlangga dalam menghasilkan cendekiawan yang dapat merefleksikan sesuatu yang menjadi pesan dari motto “Excellence with Moralty”, karena pandangan saya sebagai penulis, Excellence with Moralty mempunyai makna yang sangat luas dan sangat mendalam yang sangat diperlukan oleh semua kalangan untuk dijadikan pijakan dasar dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terkecuali santri pondok pesantren. Terlebih lagi bagi mahasiswa Universitas Airlangga yang berstatus santri diharapkan dapat menjadi barisan terdepan dalam merfleksikan motto Universitas Airlangga.

M. Ananta Jauhar A
Dan Koordinator Forum Generasi Santri Intelektual (Forum GeSI)

SUMBER
 http://nantaku88.blogspot.com/2011/07/urgensi-peran-perpustakaan-dalam.html
--------------



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

page